BPK-KPK pada Masa Khalifah Umar dan Ujian Ketakwaan dalam Harta

Pada masa Umar bin Khaththab r.a. menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar r.a., pemerintahan Islam mulai berjalan lebih rapi secara administratif dan lebih stabil secara hankam. Tidak mudah mewujudkan kondisi ini, banyak shahabat pilihan telah gugur dalam Perang Riddah semasa Abu Bakar memimpin. Di antaranya adalah sekian banyak qari` dan huffazh Al-Qur`an, misalnya Salim maula Abu Hudzaifah—seorang shahabat yang muncul dalam sabda Nabi Muhammad SAW; “Ambillah (Pelajarilah) Al-Qur`an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal,” yang karenanya Abu Bakar menghimpun mush-haf Al-Qur`an, sebagai ikhtiar menjaganya. Perang Riddah adalah perang melawan Gerakan Murtad dari para pengikut nabi-nabi palsu yang kemudian disusul dengan perang melawan para penolak bayar zakat.

Pada masa pemerintahannya, Umar memperlakukan para shahabat sesuai dengan ketakwaan dan keahliannya. Alumni Perang Badar tidak akan sama kedudukannya dengan para shahabat yang baru memeluk Islam saat Fathu Makkah. Pun, para shahabat yang wara` dan zuhud tak serta-merta menjadi pejabat jika tidak memiliki leadership skills yang memadai. Umar lumayan lama memimpin, rotasi level-level kepemimpinan pun terus berlanjut. Sampai akhirnya tampillah Abu Hurairah. Beliau baru memeluk Islam semasa Perang Khaibar, beberapa saat sebelum Peristiwa Hudaibiyah. Artinya, sebagai shahabat Nabi Abu Hurairah bukanlah golongan yang paling utama, bukan dari kalangan as-Sabiqun al-Awwalun minal Muhajirin wal Anshar. Toh, giliran untuk tampil tiba pula. Khalifah Umar mengangkatnya menjadi amir (gubernur) Bahrain, negeri di pantai Teluk Persia yang rakyatnya memeluk Islam melalui korespondensi surat-menyurat Rasulullah kepada rajanya terdahulu, al-Mundzir bin Sawa at-Tamimi.

Abu Hurairah yang pada awal memeluk Islam sangat miskin dan harus hidup kelaparan sebagai salah satu ahlu suffah—orang-orang miskin yang ditampung hidup di pelataran Masjid Nabawi, kini telah Allah muliakan dengan iman dan ilmunya. Dia menikahi putri mantan bosnya dari Bani Ghazwan, tentu hidupnya menjadi tercukupi. Ketika ditunjuk oleh Umar, Abu Hurairah pun menerima amanah ini dengan baik. Tidak ada masalah dalam kepemimpinannya. Hanya saja, ternyata Abu Hurairah menjadi pejabat yang kaya raya, bahkan kekayaan melejit semasa menjadi amir Bahrain. Ketika Abu Hurairah datang berkunjung menemui Umar ke Ibu Kota Madinah, dia membawa kekayaan sebesar 10.000 dirham (setara puluhan kilogram emas). Dituduh korupsi?

Inilah rapinya administrasi pemerintahan Umar. Peluang para pejabat yang diangkatnya tergelincir dari rambu-rambu hukum segera ditindaklanjuti. Umar segera melaku tabayun dan pembuktian terbalik atas kekayaan melimpah Abu Hurairah. Umar menugaskan tim yang kalau pada masa kini semacam BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Jabatan Abu Hurairah dihentikan sementara, kekayaan Abu Hurairah pun sementara disita negara (Baitul Mal) selama proses penyelidikan dan penyidikan. Abu Hurairah diinterogasi, kekayaannya diaudit. Bagaimana hasilnya?

Bersih. Abu Hurairah tidak korupsi, tidak menyelewengkan jabatannya, tidak menghambur-hamburkan kekayaan. Pengakuannya benar. Maka Umar pun memulihkan jabatannya, Abu Hurairah diangkat kembali oleh Umar menjadi amir Bahrain, tetapi dia enggan. Dia tak mau lagi menjadi pejabat daripada terjebak pada kezaliman, atau tertuduh berbuat zalim meskipun sebenarnya tidak berbuat demikian. “Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku takut kehormatanku dicaci, punggungku dipukul, dan hartaku hasil pencarianku disita.”

Demikian fragmen kisah ini diriwayatkan oleh salah seorang muridnya.

عن ابن سيرين ، قال : لما قدم أبو هريرة من البحرين قال له عمر : « يا عدو الله وعدو كتابه ، أسرقت مال الله ؟ » قال: لست بعدو الله ولا عدو كتابه ، ولكني عدو من عاداهما ، ولم أسرق مال الله ، قال : « فمن أين اجتمعت لك عشرة آلاف درهم ؟ » فقال: خيلي تناسلت  وعطائي تلاحق وسهامي تلاحقت ، فقبضتها منه ، قال أبو هريرة : فلما صليت الصبح استغفرت لأمير المؤمنين

Dari Ibnu Sirin dia berkata, “Ketika Abu Hurairah datang dari Bahrain, Umar berkata kepadanya, “Wahai musuh Allah dan musuh Kitab Allah, kamu telah banyak menghambur-hamburkan harta Allah?!” Abu Hurairah menjawab, “Aku bukan musuh Allah dan bukan musuh Kitab-Nya. Namun aku adalah musuh terhadap mereka yang memusuhi keduanya. Aku tidak menghambur-hamburkan harta Allah.” Umar berkata, “Lalu dari mana engkau dapat memperoleh uang sampai 10 ribu dirham?” Abu Hurairah menjawab, “Kudaku beranak pinak. Aku juga dapat harta dari gajiku. Aku dapat harta dari berkembangnya sahamku. Aku dapat harta dari semua itu.” Abu Hurairah melanjutkan kisahnya (pada Ibnu Sirin), “Ketika aku shalat Subuh, aku pun memohonkan ampun kepada Allah atas sikap Amirul Mukminin (Umar).”

Dalam riwayat lain, Abu Hurairah menjawab:

خيل لي تناتجت وغلة رقيق لي وأعطية تتابعت علي

“Kudaku berkembang biak, hasil usaha budakku naik, dan bagianku dari harta rampasan perang menumpuk.”

(Riwayat Abdur Razzaq di Mushannaf, Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, dan Abu Nu’aim di Hilyatul-Auliya`. Hasan.Lihat juga: al-Amwal karya Ibnu Salam)

Fragmen kisah ini sering dikutip oleh sebagian orientalis atau orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya untuk menuduh buruk sosok Abu Hurairah. Mereka ingin menyematkan predikat pendusta, korup, tidak amanah, rakus, dan segudang kalimat keji lainnya kepada Abu Hurairah. Ujung-ujungnya agar kita ragu-ragu terhadap setiap yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Lebih jauh lagi kita jadi meragukan kualitas hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dan karena riwayatnya termasuk sangat banyak, sekian persen ajaran Islam jadi batal atau tertolak.

Salah besar!

Kisah ini justru dijadikan hujah oleh para ulama untuk makin meneguhkan teori mereka dalam ilmu hadis, yaitu bahwa semua shahabat Nabi adalah ’adil, orang-orang tepercaya yang tidak mungkin berdusta atas nama Allah dan Rasulullah. Mereka manusia biasa, tidak maksum, yang pun bisa terluput dalam khilaf dan dosa. Namun, dosa dusta seperti itu, jauh dari “kamus hidup” mereka.

Sebagian orientalis atau pendengki-hati biasanya berhenti pada kisah Umar menuduh Abu Hurairah, atau lebih parah lagi, berhenti hanya dengan mengutip kalimat pedas Umar, “Hai musuh Allah dan Rasulullah!” Namun, mereka tidak fair membaca kisah tersebut sampai tuntas. Bahwa setelah diperiksa dan diaudit dengan saksama, Abu Hurairah terbukti bersih. Hartanya 100% halal. Nama baik dan jabatannya kembali dipulihkan. Soal bahwa Abu Hurairah kemudian enggan kembali menjadi amir Bahrain, itu soal lain. Mereka juga tidak jujur membaca kisah tersebut sampai akhir, yaitu bahwa dalam kesakithatiannya atas tuduhan tersebut, Abu Hurairah tetap mendoakan Umar dengan kebaikan-kebaikan. Ini jalan seorang ninja mukmin sejati.

Setelah era Umar, tercatat beberapa jabatan ditawarkan kepada Abu Hurairah tetapi dia sering menolak. Pada masa Daulah Umawiyah, Marwan bin Hakam memaksanya menjadi gubernur Madinah. Namun, gairah utama Abu Hurairah adalah mengajar. Dia lebih suka menjadi guru mengaji. Bersebab fokus mengajar inilah barangkali hadis-hadis Abu Hurairah termasuk yang banyak terekam dan diriwayatkan oleh para muridnya dari generasi tabi’in, “menyaingi” para shahabat Nabi lainnya yang seharusnya bisa meriwayatkan hadis lebih banyak, tetapi kurang tekun mengajar karena berbagai kesibukan mereka.

Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah Abu Hurairah di atas. Namun, yang paling membuat penasaran: penggemblengan dan pendidikan macam apa yang mampu mencetak generasi keren para shahabat? Mengapa mereka mampu menjadi pribadi-pribadi alim, shalih, dan membentengi diri dari dosa-dosa besar? Perlu kajian yang mendalam atas pertanyaan sederhana ini. Namun, kita jadi ingat. Barangkali shalat adalah salah satu rahasianya. Bukankah Allah telah berfirman, Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar(Q.s. al-’Ankabut [29]: 45)?


Ruang Redaksi, Selasa, 25 Oktober 2022
Z. Saputro

Ingin agar shalat kita khusyuk? Baca buku KHUSYUK DALAM SHALAT

Ingin agar Al-Fatihah yang kita baca setiap shalat berkesan? Baca buku AGAR IBADAH LEBIH HIDUP

Anda mungkin menyukai

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Keranjang Belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

Pro-U Media

Selamat datang di Pro-U Media. Kami siap membantu kebutuhan literasi Anda dengan buku bacaan yang keren dan bergizi :)

Selamat datang, ada yang bisa kami bantu