Mengenalkan Eksotisme Jaringan Ulama Nusantara

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Profesor Dr. H. Azyumardi Azra, M.Phil., M.A. (4 Maret 1955–18 September 2022) telah tiada. Lepas dari segala kekhilafan sebagai manusia, kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia dan umat manusia saya acungi jempol. Paling tidak dari karya-karyanya yang khas sejarah. Saya tidak mengenalnya secara mendalam dan pribadi. Namun beberapa karya dan pemikirannya mencuri perhatian. Sebagai awam tapi menaruh minat menggebu-gebu atas bidang sejarah, bagi saya barangkali Profesor Azra termasuk satu di antara profesor lainnya di bidang sejarah yang taat asas, patuh metode, disiplin, dan jujur dalam menampilkan hard fact sejarah. Soal bagaimana analisisnya kemudian—sebagaimana tiap ilmuwan lainnya—barangkali ada nilai-lekat pribadi yang memengaruhinya. Dan, itu terserah mereka. Toh, saya tak harus setuju dengan analisis mereka meski hard fact-nya tak saya bantah.

Dari Profesor Azra, kita disuguhi karya apiknya, Jaringan Ulama Timur Tengah & Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Kita jadi tercerahkan bahwa Nusantara yang kita cintai ini memendam sejarahnya yang agung. Betapa Nusantara tidak sekadar negeri kelas tiga, rare world, yang hanya jadi budak konsumen pada masa lalu. Nusantara adalah negeri penting produsen; produsen berbagi komoditas yang dengan sebab itu menjadi incaran para liyan untuk menjelajahi dan menjajahi. Pun Nusantara adalah produsen dari ilmu dan peradaban. Buku Jaringan Ulama mengulas apik dinamika tersebut.

Pada mulanya Nusantara memang menjadi objek dakwah, tetapi kemudian menjelma menjadi para duta dakwah. Ulama Nusantara pada masa lalu berkualitas tidak kaleng-kaleng. Mereka mendunia dalam kerja dan karya nyata. Sebutkan ulama Indonesia yang kualitasnya menjadi imam Masjidil Haram Makkah atau guru besar di Al-Azhar Kairo, pasti itu terjadi pada masa lalu.

Demikian pula bersatunya berbagai entitas di Nusantara menjadi satu identitas—Indonesia Raya—adalah hadiah manis dari para ulama Islam tersebut. Bagaimana tidak, Indonesia yang kita kenal hari ini disatukan oleh tiga kesamaan. Menurut Dr. Tiar Anwar Bachtiar, agak sulit mencari kesamaan di luar tiga hal ini yang darinya identitas Indonesia terwujud. Kesamaan lingua franca, kesamaan agama, dan kesamaan senasib sepenanggungan akibat penjajahan. Ketiga hal tersebut tidak mungkin lepas dari membahas ulama Islam di Nusantara. Bagaimana bahasa Melayu bisa menjadi lingua franca dan digunakan luas di Nusantara di tengah-tengah berbagai bahasa agung lainnya yang masif? Apa yang lahir dari semangat agama ketika melihat penjajahan dan kezaliman? Jawabannya, spirit dari agama yang sama muncul, digelorakan para ulama, dimudahkan berkomunikasi dengan bahasa yang sama, kemudian mendorong manusia-manusia Nusantara berupaya mengubah nasib mereka: lawan penjajahan raih kemerdekaan!

Satu fragmen yang paling saya ingat dari buku Jaringan Ulama adalah kemungkinan Nusantara ini telah berjejaring dengan Timur Tengah sejak fase awalnya. Dokumen autentik tertua dapat dilacak dari surat-menyurat penguasa Bani Umayyah (abad pertama Hijriah) dengan Maharaja atau Raja Diraja dari sebuah negeri yang terletak antara Al-Hind dan Ash-Shin. Surat pertama untuk Mu’awiyah, khalifah pertama Daulah Umawiyyah, dan surat kedua untuk Umar bin Abdul Aziz, khalifah kedelapan. Azra mengutip penelitian sejarawan S.Q. Fatimi, dari jurnal Islamic Studies, Vol. 2 No. 1 (1963), “Two Letters from the Maharaja to the Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East.”

Dalam analisis panjangnya, S.Q. Fatimi menilai para perawi berita tentang dua surat tersebut adalah reliable (tsiqah), dengan demikian berita ini benar adanya. Kemudian dia juga menganalisis bahwa negeri yang tepat sebagaimana dimaksud dalam kedua surat tersebut bukanlah Al-Hind atau Ash-Shin, tapi antara keduanya. Jika Al-Hind merujuk pada India (Asia Selatan) dan Ash-Shin adalah Tiongkok (Asia Timur), maka negeri yang dimaksud kemungkinan besar adalah kerajaan cukup besar di Asia Tenggara yang berjaya pada masa itu, abad ke-8 dan 9 Masehi, dan itu adalah Sriwijaya. Berikut ini dua surat yang eksotis tersebut. Dalam Kitab al-Hayawan, ’Amr bin Bahar al-Jahiz (163/783-255/869) mengutip berita tentang surat pertama. Sayang surat kepada Mu’awiyah (41/661-61/680) tersebut terpotong, kurang utuh.

“Al-Haitsam bin ’Adi meriwayatkan dari Aba Ya’qub ats-Tsaqafi, dari Abdul-Malik bin ‘Umair bahwa dia (yang disebutkan terakhir) melihat di Diwan (sekretariat) Mu’awiyyah (setelah kematiannya) sebuah surat dari Raja Ash-Shin, (di dalamnya tertulis:

من ملك الهند الذي على مربطه ألف فيل و بنيت داره بلبن الذهب و الفضة و الذي تخدمه بنات ألف ملك و الذي له نهران يسقيان الاوه إلى معاوية

“Dari Raja Ash-Shin), yang di kandangnya terdapat seribu gajah dan istananya dibangun dari batu bata emas dan perak, yang dilayani oleh seribu putri raja, dan yang memiliki dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, kepada Mu’awiyah ….”

Mari kita simak surat kedua yang lebih utuh. Ibnu ’Abdi Rabbih (246/860-328/940) dalam kitab al-’Iqd al-Farid mengutip riwayat Abu Abdullah Nu’aim bin Hammad (w. 288/842-3)—ahli hadis tersohor—tentang surat Maharaja Al-Hind kepada Umar bin Abdul Aziz (99/717-102/720).

(“Nu’aym b. Hammad menulis,

بعث ملك الهند إلى عمر بن عبد العزيز كتابا فيه: من ملك الأملاك الذي هو إبن ألف ملك و الذي تحته بنت ألف ملك و الذي في مربطه ألف فيل و الذي له نهران ينبتان العود و الألوه و الجوز و الكافور الذي يوجد ريحه على مسيرة اثنى عشر ميلا إلى ملك العرب الذي لا يشرك بالله شيأ أما بعد فإني قد بعثت إليك بهدية و ما هي بهدية ولكنها تحية و أحببت أن تبعث إلي رجلا يعلمني الإسلام و يوقفني على حدوده

[او: يعلمنى ويفهمنى الإسلام]

 و السلام

‘Raja Al-Hind mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz, yang berbunyi sebagai berikut:

Dari Raja Diraja, yang merupakan keturunan seribu raja, yang permaisurinya juga keturunan seribu raja, yang di kandang-kandangnya terdapat seribu gajah, dan di wilayahnya ada dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, rempah-rempah berbau harum, pala, dan kapur barus, yang aromanya menyebar ke jarak dua belas mil, – kepada Raja Arab, yang tidak mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain.

Amma ba’du. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang tidak seberapa hadiah, tetapi (hanya) salam penghormatan, dan saya berharap Anda dapat mengirim kepada saya seseorang yang dapat mengajari saya Islam dan mengajari saya dalam hukum-hukumnya [atau versi lain: ‘dapat mengajari saya Islam dan menjelaskannya kepada saya.’]” Was-Salam)!

Surat kedua juga dikutip oleh Ibnu Taghri Bardi (813/1410-874/1470) dalam kitab an-Nujum az-Zahirah fi Muluk Mishr wal-Qahirah dari riwayat Ibnu ’Asakir (499/1105-571/1176)—ahli hadis kenamaan. Uniknya, memuat redaksi tambahan:

و قد أهديت لك هدية من المسك و العنبر و الكافور فاقبلها فإنما أنا أخوك في الإسلام

(“Saya mengirimkan hadiah kepada Anda berupa bahan misik, ambar, dan kapur barus. Terimalah, karena saya adalah saudara Anda dalam Islam.”)

Penelitian dan simpulan S.Q. Fatimi ini tidak hanya diamini Azra, arkeolog Bambang Budi Utomo dkk (2004) dan Wandiyo dkk (2020) yang melakukan penelitian tentang Sriwijaya berpendapat serupa. Bagi saya penelitian yang dikutip Profesor Azra ini sangat eksotis, sekaligus menunjukkan betapa penting posisi Nusantara—kini Indonesia Raya—bagi Islam dan dunia. Peran pengembangan ilmu dan peradaban jelas termuat dalam korespondensi tersebut, sekaligus tukar komoditas yang sangat berkualitas: wewangian gaharu dan kapur barus khas Indonesia. Menyunting beberapa buku sejarah di Pro-U Media, acap kali saya menemukan karya Profesor Azra dikutip. Bahkan mempersiapkan buku wewangi yang tidak lama lagi terbit, juga mengingatkan dua surat yang Profesor kutip di atas, rerupa hadiah wewangian menawan dari Nusantara ke Arabia. Hari ini jasadmu dimakamkan Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, selang sehari nun jauh di sana dengan pemakaman mendiang Ratu Elizabeth II, penguasa Kerajaan Inggris terlama yang pada 2010 silam memberimu gelar CBE (Commander of the Order of the British Empire), engkau orang non-Britania Raya pertama bergelar Sir. Terima kasih, Sir Azyumardi Azra, CBE. Selamat jalan. Setiap kita akan dihisab dalam iman dan amal kita. Jasa ilmu sejarahmu semoga menjadi tambahan catatan amal salehmu.

Ruang Redaksi, Selasa, 20 September 2022
Z. Saputro

KLIK di sini untuk katalog buku-buku sejarah terbitan Pro-U Media

Anda mungkin menyukai

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×

Keranjang Belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

Pro-U Media

Selamat datang di Pro-U Media. Kami siap membantu kebutuhan literasi Anda dengan buku bacaan yang keren dan bergizi :)

Selamat datang, ada yang bisa kami bantu