| Weight | 350 g |
|---|---|
| Dimensions | 16 × 1 × 24 cm |
Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bagian negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan tempat yang paling Allah adalah pasar-pasarnya.” (H.r. Muslim)
Allah SWT berfirman, Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir; tetap mendirikan shalat; menunaikan zakat; serta tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.s. at-Taubah [9]: 18)
Setidaknya berpegang pada dustur Ilahi dan Nabawi tersebut, segenap pengurus takmir (DKM) dan komponen Masjid Jogokariyan bergerak memakmurkan masjid. Pertama, meski bukan yang mutlak dipertentangkan dan umat Islam pun tidak dilarang beraktivitas di kedua tempat, seakan-akan Rasulullah hendak mengingatkan umatnya tentang simbolisasi dari dua tempat tersebut. Dalam bahasa Ustadz Muhammad Jazir ASP, di dunia ada dua bentuk peradaban, yaitu peradaban yang tumbuh dan berakar dari masjid seperti Madinah serta peradaban yang tumbuh beralaskan pasar.
Peradaban pasar itu nilai dasar (basic)-nya adalah materialisme, kebendaan, dan madiyah. Jenis orang yang bermaterilah yang akan dihargai. Sebaliknya, di masjid, orang yang mulia dan berharga adalah yang paling bertakwa dan paling baik akhlaknya. Pertarungan antara peradaban masjid dan pasar ini terus-menerus terjadi di dunia. Dan, ternyata Allah lebih menyukai yang ala kemasjidan. Kalau ruhnya sudah kemasjid-masjidan, ke pasar pun umat Islam akan berperilaku masjid. Sebaliknya, kalau ruhnya didominasi kepasar-pasaran, di dalam masjid pun seseorang masih terjebak penilaian materi. Dalam bahasa Ustadz Salim A. Filah, malah menyerupai dakuan Iblis, “Ana khairun minhu. Aku lebih baik daripada dia.” Karena aku lebih berilmu, lebih rajin beribadah, berinfak lebih besar, bersedekah lebih banyak, maka aku pasti lebih baik daripada jamaah lainnya. Na’udzubillah.
Kedua, sebagaimana awalan ayat 18 surah at-Taubah, masjid yang makmur memang dimulai dari asas keimanan dan ketakwaan para pemakmurnya, tetapi pada akhirnya menyentuh aspek materi. Masjid menjadi pusat ‘ubudiyyah sekaligus sentral pemberdayaan muamalah umat.
Ketiga, secara gamblang Allah telah merumuskan cara memakmurkan masjid menjadi tiga ukuran utama, yaitu aqâmash-shalâh ‘tegaknya shalat’, ātaz-zakâh ‘tertunaikannya zakat’, dan lam yakhsya illallâh ‘merdekanya kaum Muslimin dari rasa takut, kecuali hanya takut kepada Allah’. Kalau kita ingin melanjutkan para pejuang, para pendiri negara, maka masjid kita harus makmur; maksimal fungsi vertikalnya, optimal peran horizintalnya, dan tidak boleh ada ketakutan lagi di masjid.
Buku ini ditulis dengan racikan teoretis dan aplikatif para pemakmur Masjid Jogokariyan. Harapannya, rumusan ideologis dan juknisnya menyebar dan teramal untuk kemakmuran masjid-masjid lainnya se-Indonesia.
Only logged in customers who have purchased this product may leave a review.











Reviews
There are no reviews yet.