Free songs

Sang “Kiai” Besar

By : | 0 Comments | On : April 17, 2014 | Category : Cuplikan Buku

Suatu ketika, seorang yang bodoh bercita-cita menjadi seorang kiai besar. Dia pun berfikir, tapi tetap saja tak ada hasil karena dirinya memang bodoh. Meski bodoh, orang ini punya satu kelebihan yang jarang dimiliki orang: keberanian.

Ketika si bodoh ini tengah berpikir keras, tiba-tiba melintas seorang putri kiai besar yang tersohor di kampungnya. Yap… akhirnya ia dapat ide. Idenya memang cukup berani: melamar putri kiai yang baru saja lewat agar bisa menjadi kiai besar. Karena kebodohannya, dia langsung datang ke rumah kiai dan melamar anak gadisnya tanpa keluarga yang mendampingi. Mendengar maksud dan tujuan tamunya, sontak sang kiai besar terkejut.

“Hai anak muda, apa yang mendorongmu berani melamar anakku?” kata kiai besar.

Si bodoh langsung menjawab dengan sok mantap, “Agar saya bisa hidup dengan agama Allah.”

Tak dinyana, jawaban si bodoh membuat kiai besar manggut-manggut sembari mengurut dan mengelus janggutnya. Singkat cerita, diterimalah lamaran sang pemuda berbadan tinggi besar—dan bodoh—itu. Hari itu juga sang kiai besar menikahkan anaknya dengan si bodoh tadi.

Di malam pertama, putri kiai menerima suami pilihan abahnya dengan sedikit canggung dan malu-malu. Sama seperti abahnya, dirinya juga tidak tahu kalau suaminya adalah orang yang bodoh. Baginya, pilihan sang abah adalah yang terbaik untuk dirinya.

Malam itu, sang suami mengajak istrinya untuk menunaikan hak dan kewajiban mereka. Sang istri berkata, “Mas, sebagai Sunnah Nabi, wudhu dulu kemudian shalat dua rakaat dan yang lebih penting lagi membaca doa khusus malam pertama.” Glodak… tentu saja si suami tidak tahu kalau ada aturan seperti itu. Beruntung dia pernah melihat orang wudhu dan shalat sehingga di ujian pertama ini ia berhasil lulus meski mulutnya hanya komat-kamit layaknya orang yang tengah membaca sesuatu.

Masak abah memilihkan suami untukku seperti ini, gumamnya dalam hati. Walau mulai gusar, ia tetap mencoba berpikiran positif pada suami yang dipilih abahnya.

Fajar tiba, tetapi sang suami tidak juga mandi dan shalat Subuh. Sang istri mulai tidak sabar, ia pun lari menemui abahnya. “Abah… Abah…. Tolong Abah…. Tolong…!? Di kamarku ada babi besar sekali.”

Kontan sang kiai berlari menyambut anaknya sambil membawa penthungan1. “Mana babinya, Nak? Mana…? Di mana babinya biar aku pukul!”

“Itu, Abah, di dalam kamarku.”

Sang kiai besar langsung masuk dan mencari babi yang dikatakan anaknya. Setelah lama mencari, babi itu tak juga ditemukan. Karenanya, anaknya pun ia panggil. “Mana babinya?”

Tak disangka ternayata anaknya menunjuk ke arah tempat tidur. “Itu, Abah, itu babinya.”

“Bukankah itu suamimu…?” jawab sang kiai penuh keheranan.”

“Maaf, Abah… bukankah Abah pernah bilang kalau orang yang tidak shalat itu tak ubahnya seekor babi.”

“Memangnya suamimu tidak shalat!” tanya abah tak percaya.

“Abah tanya sendiri saja biar jelas!” jawab anaknya semakin gusar.

Kemudian sang kiai besar membangunkan anak menantunya sambil bertanya, “Apa benar kamu belum mandi dan shalat?”

Sang menantu menjawab, “Abah, bagaimana saya mandi dan shalat Subuh, lha wong sampai saat ini tidak ada yang mengajari saya.”

Alangkah terkejutnya sang kiai besar mendengar jawaban menantunya itu. Sambil menarik nafas panjang, sang kiai besar mengucap istighfar berkali-kali. “Apa kamu mau shalat?”

“Mau, Abah. Mau,” jawab sang menantu penuh kesungguhan.

Kemudian kiai besar berkata kepada anaknya, “Nduk, Ada pahala besar untukmu. Ajari suamimu tentang agama Islam dengan kasih sayang. Insya Allah, dia suami terbaik bagimu. Di dunia ini, jarang sekali orang bodoh yang menyadari kebodohannya.”

Hemat cerita, pagi-pagi di hari Jumat menantu kiai besar ini pergi ke masjid untuk shalat Jumat. Dengan mengenakan jubah khutbah yang biasa dipakai mertuanya, ia melangkah mantap menuju masjid. Ini Jumatan pertama yang ia hadiri. Karena masih pagi, masjid masih sepi dari jamaah. Sesuai saran istrinya, ia menempati shaf pertama.

Jumatan akan segera dimulai, jamaah juga sudah duduk rapi di shafnya masing-masing. Kebetulan hari itu sang kiai besar berhalangan hadir, orang-orang pun saling berpandang berharap ada yang bersedia menggantikan beliau. Akhirnya, jamaah setuju bahwa penggantinya adalah menantu kiai. Selain karena ia menantu kiai, ia juga memakai jubah khutbah yang biasa dipakai sang kiai besar.

Karena teringat pesan istrinya—tabu menolak kebaikan—maka ia pun maju. Ya, inilah kelebihannya: keberanian. Khutbahnya sangat singkat, tetapi tegas, padat, dan berisi. Semua jamaah pun senang dengan khutbahnya meski tak sedikit yang merasa aneh karena rukun-rukun khutbah tak dipenuhi seluruhnya.

Selesai khutbah ia didaulat menjadi imam. Dengan hanya bermodalkan keberanian, ia maju menjadi imam. Takbirnya sangat mantap, suaranya berat dan bagus. Suasana shalat pun menjadi hening dan sangat khusuk, apalagi di pertengahan surat al-Fatihah sang imam berhenti lama. Banyak jamaah yang mengira jika imam tengah meresapi maknanya. Karenanya, mereka pun ikut menangis ketika terdengar isak tangis dari arah imam.

Suasana shalat pun dipenuhi suara isak tangis. Namun, karena terlalu lama tak dilanjutkan, sebagian jamaah mulai merasa aneh. Apa mau dikata ternyata sang imam menangis karena tak hafal ayat selanjutnya dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Akhirnya, karena bingung, ia pun lari dari menerobos jamaah. Para jamaah yang tidak siap dengan serudukan imam, terjengkang ke belakang hingga shaf-shaf pun karut-marut tak keruan. Suasana tambah kacau ketika ada yang berteriak, “Imam palsu!”

Mendengar teriakan itu, semua jamaah berhamburan ke luar masjid mengejar sang imam. Sang imam terus berlari, tetapi apa daya banyaknya jamaah yang mengejarnya tak kuasa ia tandingi. Naas, sang imam tertangkap dan diamuk massa. Atas kekuasaan Allah, mereka dikejutkan dengan suara gemuruh yang membuat mereka semua berhenti menghajar sang imam, ternyata masjid yang biasa digunakan untuk shalat Jumat ambruk dan rata dengan tanah.

Melihat hal itu, sang imam ditinggalkan terkapar tak berdaya, sedangkan para jamaah berlarian menuju masjid yang sudah rata dengan tanah. “Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…” seru jamaah menyebut kebesaran Allah.

Dalam situasi seperti itu, ada di antara jamaah yang berteriak, “Kiai… kiai… dia kiai besar! Dia telah menyelamatkan kita semua! Dia tahu sebelum kita tahu! Oh Kiai, maafkan kami…!”

Meski tak ada yang mengomando, semua lari berbalik ke arah sang “kiai” besar terkapar. Kemudian para jamaah menjunjung dan memanggul sang imam sambil berkata, “Kiai besar… kiai besar… kiai besar….” Mereka begitu bersemangat mengarak sang “kiai” besar keliling kampung.

Sang imam sendiri bingung mengapa mereka berbuat seperti ini. Karena terus disebut-sebut sebagai kiai besar, ia pun melambai-lambaikan tangan tanda menyetujui gelar baru yang disematkan kepadanya. Sejak saat itu, ia dianggap sebagai kiai besar yang sangat kharismatik. Kalau penasaran, silakan dicari sendiri—banyak kok kiai-kiai model begini saat ini. []

——————————————————————————————————————-

Diambil dari buku Lebih Baik Dipaksa Masuk Surga

Penulis : Mahroji Khudori
Halaman : 324
Dimensi : 14×20 cm
Berat : 292 gram
Tahun : 2014
ISBN : 978-602-8940-17-7


Post A Comment

Penerbit Pro-U Media

Jalan Jogokariyan No. 41, Yogyakarta | Telp. 0274-376301 | redaksi@proumedia.co.id | marketing@proumedia.co.id
Redaksi : Marketing :

Pelayanan : Senin - Jumat pukul 08.30 - 15.00 WIB (Istirahat 11.45 - 12.45 WIB)