Free songs

Dalam Dekapan Ukhuwah

By : | 1 Comment | On : Maret 13, 2014 | Category : Buku Terlaris

Di buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah, kita ingin meninggalkan bayang-bayang Narcissus. Kita ingin
kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Dari Narcissus yang dongeng, kita menuju Muhammad yang menyejarah. Pribadi semacam Sang Nabi ini yang akan menjadi telisik pembelajaran kita. Inilah pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran.

Tak ayal, kita harus memulainya dari satu kata. Iman. Karena ada tertulis, yang mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati. Iman itu pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura. Maka Allah dan RasulNya telah meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama. Setidaknya, terjaganya mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Dan itulah batas terrendah dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah kita menghayati pesan Sang Nabi. “Jangan kalian saling membenci”, begitu beliau bersabda seperti dicatat Al Bukhari dalam Shahihnya, “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara..”

Dalam dekapan ukhuwah kita mendaki menuju puncak segala hubungan, yakni taqwa. Sebab, firmanNya tentang penciptaan insan yang berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal ditutup dengan penegasan bahwa kemuliaan terletak pada ketaqwaan. Dan ada tertulis, para kekasih di akhirat kelak akan menjadi seteru satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa.

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi.

 

Komentar Pembaca dari goodreads.com

Ruqaiyah.Jul 27, 2013
Ruqaiyah. rated it 5 of 5 stars

Demi Nusrah, saya tuliskan review 😉

Dimulakan dengan puisi Berkilaulah, Dalam Dekapan Ukhuwah, terasa buku ini benar-benar dekat dengan hati (walapun baru berada di halaman 7).

Kombinasi kisah-kisah para sahabat, ditambah pula dengan penelitian daripada buku-buku seperti Winning With People – John C. Maxwell, Every Word Has Power – Yvonne Oswald dan sebagainya, diselangi puisi yang mampu membuat diri menutup buku sejenak dan berfikir, bersama dengan buah fikiran serta pengalaman-pengalaman Salim A. Fillah sendiri; memberi 5 bintang sahaja tidak cukup 🙂

Pada yang pernah membaca buku-buku Salim A. Fillah yang lain, anda akan mendapati terdapat kisah-kisah yang sama diselitkan seperti kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang ditawarkan rumah, kebun dan isteri oleh seorang Ansar, pemberontakan pada zaman Khalifah Uthman, namun sudut penceritaannya tetap berbeza. Membaca kisah-kisah terdahulu, secara automatiknya anda akan berasa, “Ceteknya pengetahuan. Rupanya banyak lagi sirah-sirah yang belum kita tahu.”

Sukar untuk memilih bab mana yang paling saya minati kerana setiap bab sudah tentunya memberi penekanan yang berbeza. Tetapi kisah di sebalik peribadi Sultan Al-Manshur Saifuddin Qalawun yang buat diri rasa sangat terjerut. “Rahmat atau musibah, kami hanya bersangka baik kepada Allah.”

Ringkasnya, ia bukan sekadar bercerita bagaimana membina hubungan yang baik sesama manusia, bagaimana bertindak berlandaskan personaliti setiap orang mengikut cara Rasulullah SAW, tapi lebih daripada apa yang anda inginkan daripada sebuah buku.

—————————————————–

Lia ApriliaDec 26, 2010
Lia Aprilia rated it 4 of 5 stars

“engkau pasti tau” katanya.
saya hanya bisa meraba dan menduga. bahwa agar terasa bagi sesama, dalam dekapan ukhuwah kita harus belajar menghadirkan rasa terbaik kita. bukan gemerlap cahaya. bahwa dalam dekapan ukhuwah yang berharga adalah apa yang bisa kita nikmati bersama, bukan sesuatu yang secara egois kita sesap sendiri. inilah asa agung bg buku ini, dalam dekapan ukhuwah. maka untuk meraihnya kita telah diajari menelusur beberapa butir pokok:
1. dalam dekapan ukhuwah, iman kita diukur dengan mutu hubungan yang kita jalin.
2. seiring itu, sebuah hubungan dalam dekapan ukhuwah harus didasarkan pada iman.
3. bahwa baik iman maupun ukhuwah bukanlah hal yang semula jadi dan bisa muncul sendiri.

“dan belajarlah untuk mengetahui bahwa engkau tahu” katanya lagi…

Dalam dekapan ukhuwah aku mencintai kalian saudara-saudaraku karena Allah ^^

—————————————————–

sinta nisfuannaSep 07, 2011
sinta nisfuanna rated it 5 of 5 stars

Shelves: spiritual

Tak dipungkiri bahwa ukhuwah menyimpan keindahan dan ketulusan yang tak terkira. Dari sana tercipta sebuah komunitas yang dapat saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan. Dua lebih baik dari satu, tiga lebih baik dari dua.

Namun, menjalin sebuah ukhuwah tidaklah mudah, karena di sana kita tidak bisa mendewakan ego. Ada orang lain yang harus kita jaga, hormati dan sayangi. Ada toleransi dan kesabaran yang sangat besar ketika kita memutuskan untuk menjalin ukhuwah. Banyak, sangat banyak sekali yang akan datang untuk menguji sebuah ukhuwah. Bukankah segala yang mendatangkan pahala tidak pernah mudah?

Salim A Fillah memberikan kepada saya berbagai gambaran dan masalah yang sangat mungkin terjadi dalam jalinan ukhuwah. Bagaimana seorang muslim harus dapat berlembut hati tanpa harus meninggalkan ketegasan prinsip yang harus tetap digenggam. Banyak yang saya dapatkan dari buku ini, renungan, teladan dan contoh kasus yang sangat mudah untuk dipahami, berkenaan dengan hangatnya dekapan ukhuwah.

Dan yang sangat saya salutkan pada penulis ini adalah caranya dalam menuliskan kisah sejarah, dimana saya dapat merasakan bagaimana si penulis begitu menghayati sejarah kenabian dan para sahabatnya. Saya suka dengan caranya Salim yang dapat menyoroti, tidak hanya sisi positif, tapi juga sisi negatif dari para sahabat Rasulullah, tanpa menjatuhkan keunggulan dan keluhuran budi yang dimiliki mereka. Saya sangat menyukai caranya bertutur yang luwes, yang sekaligus menyadarkan betapa kurangnya saya dalam membaca atau memahami sejarah Rasulullah dan para sahabatnya.

—————————————————–

Thiya RenjanaOct 01, 2010
Thiya Renjana rated it 5 of 5 stars

Bismillahirrohmaanirrohiim…

Salah satu bagian yang saya suka dari buku DDU yang sedang saya baca dan tidak kunjung khatam adalah sebuah chapter yang berjudul “Keterhijaban dan Baik Sangka”

Chapter tersebut dimulai dengan sebuah quote hikmah:
Ada banyak hal yang tak pernah kita minta
tapi Allah tiada alpa menyediakannya untuk kita
seperti nafas sejuk, air segar, hangat mentari,
dan kicau burung yang mendamai hati
jika demikian, atas doa-doa yang kita panjatkan
bersiaplah untuk diijabah lebih dari apa yang kita mohonkan

Disusul dengan kisah yang saya tak tahu apakah itu kisah pribadi si penulis atau kisah orang lain, entah itu nyata adanya ataukah fiksi semata. Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan, bisa pegal-pegal kalau saya tulis semuanya di sini :p

Di akhir chapter, penulis menutupnya dengan kisah sebuah sejarah kecil pada masa Abbasiyah akhir. Sekelumit kisah tentang Qalawun yang berani berprasangka baik dalam segala keterhijaban. Qalawun yang berani berkata, “Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Tapi kami selalu berprasangka baik kepada Allah!” Seperti kisahnya, dalam dekapan ukhuwah, ada berjuta kebaikan mengiringi prasangka baik kita kepadaNya. Dia setia bersama kita dan melimpahkan kebaikan, karena kita mengingatNya juga dengan sangkaan kebaikan.

Pertama kali membaca dua kisah di chapter ini saya benar-benar tercenung. Iya juga ya. Karena saya sendiri berpendapat itulah hiburan satu-satunya saya saat menanti kecerahan dari masalah menahun saya. Bahwa yang baik menurut saya belum tentu menurut Allah, dan yang menurut saya tidak baik bisa jadi justru itu terbaik yang menurut Allah pantas saya dapatkan. Pastinya saya cukup berdoa dan berikhtiyar semampunya. Lalu sisanya tinggal tawakal dan berbaik sangka pada Allah. Kisah-kisah di buku ini sungguh inspiratif. Andai jari-jari saya kuat, rasanya ingin sekali mengetik ulang semua kisahnya di blog ini 🙂

Bisa dibilang kata-kata penyair di awal itu benar-benar menohok, hehe. Karena saya sendiri ingat, kadang jika saya curhat sesuatu kepada sahabat-sahabat luar biasa saya, mereka suka menimpali, “Berbaik sangka sajalah.”

Yang membuat saya lebih tertohok, karena si penulis buku tersebut, Kang Salim, menambahkan dengan sebuah hadits Qudsi yang sering kita dengar, “Sesungguhnya Aku,” kata Allah dalam ujaran Nabi yang diriwayatkan Ibnu Majah, “Ada di sisi prasangka hambaKu pada diriKu.”
“Aku bersamanya setiap kali dia mengingatKu. Jika dia mengingatKu di kala tiada kawan, maka Aku akan mengingatnyadalam kesendirianKu. Jika dia mengingatKu dalam suatu kumpulan, niscaya Aku sebut-sebut dia dalam suatu kaum yang lebih baik daripada jama’ahnya. Jika dia mendekat padaKu dalam jarak sejengkal, maka Aku mengakrabinya dengan beringsut sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu dalam jarak satu hasta, Aku akan menyambutnya dengan bergeser satu depa. Apabila dia datang kepadaKu dengan berjalan, Aku akan datang padanya dengan berlari-lari kecil.”

Intinya, penulis mengingatkan jika ada berjuta kebaikan mengiringi prasangka baik kita padaNya. Dia setia bersama kita dan melimpahkan kebaikan, karena kita mengingatNya juga dengan sangkaan kebaikan.

—————————————————–

NormaMay 23, 2012
Norma rated it 4 of 5 stars

Kesan pertama terhadap buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim. A Fillah, “Ah, palingan buku ini biasa saja. Apa istimewanya membahas ukhuwah. Bukankah tidak banyak yang bisa dibahas tentang tema ini? Yah, palingan gak jauh-jauh dari hak-hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Atau himbauan agar sesama umat muslim bersatu, menjaga ukhuwah.”

Tapi tetap saja aku membelinya ketika ada pameran buku kemarin. Penasaran. Seperti apa isi buku yang dibilang banyak orang bagus itu.

Baru screening bukunya, kesan pertama ku itu, terhapus perlahan. Aku awali dengan membaca tulisan pembuka bab. Baguuuuussss. Kata-katanya bagus, daleeemmm, mengandung hikmah, motivasi, dan inspirasi. Dan setelah membaca bab demi bab, kesan pertamaku itu benar-benar sudah lenyap. Hiks, jadi tau kalau diri ini masih suka suudhon, dangkal ilmu juga, sedih.

Ternyata banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Baik ilmu yang bisa dibilang berat, seperti yang menyangkut asal usul diturunkan ayat, sampai yang ringan_seperti dongeng atau cerita yang membuat tersenyum. Jadi tambah nyadar kalau pengetahuanku itu masih miniiiiiiiimmm sekali. Sepanjang membaca buku ini, aku sering bergumam, “Oh, ternyata seperti ini, Oh ternyata begitu!

Semua itu disajikan dalam bahasa yang mengalir, tidak rumit. Penulis cerdas mengolah kata sehingga bisa menyusun kalimat sedemikian rupa sehingga pengetahuan yang bisa jadi berat, rumit, terasa mudah dicerna dan dipahami.

Bisa dibilang, buku ini banyak mengutip Al-Qur’an, Hadist, dan Kitab-Kitab para ulama besar. Namun semua itu tidak membuat kening berkerut-kerut, dan yang penting, tidak membosankan.

Isi bukunya sendiri, tentang ukhuwah, membuka hatiku, bahwa ukhuwah itu indah. Terlepas dari berbagai konflik di dalamnya. Selama ini aku merasa, bahwa bersaudara itu memang sangat dianjurkan. Tapi aku belum bisa menangkap hikmah dari anjuran tersebut. Sekedar tahu, biar umat islam kuat. Itu saja. Tanpa bisa menangkap keindahannya. Setelah membaca buku ini, ternyata ukhuwah itu indah kawan…. Bersaudara karena Allah berlandaskan keimanan. Aku yang dulu masih belum bisa memahami seperti apa itu cinta karena Allah,, setelah membaca buku ini, sedikit “nangkep” maksud “cinta karena Allah”. Cinta karena Allah,,, ya yang jelas bukan cinta karena selain-Nya. Bukan karena ingin mendapat imbalan tertentu, bukan karena harta, ataupun kepentingan pribadi saja.

Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Baca bukunya, dan kalian akan mengerti maksud dari pernyataan diatas.

Comment (1)

  1. posted by eko on September 23, 2015

    semoga benar-benar terjalin ukhuwah yang sejati di antara umat Islam

      Balas

Post A Comment

Penerbit Pro-U Media

Jalan Jogokariyan No. 41, Yogyakarta | Telp. 0274-376301 | redaksi@proumedia.co.id | marketing@proumedia.co.id
Redaksi : Marketing :

Pelayanan : Senin - Jumat pukul 08.30 - 15.00 WIB (Istirahat 11.45 - 12.45 WIB)